banner 728x250

Ibas Ajak Seniman Perkuat Karakter Bangsa: Seni Budaya Fondasi Keberadaban dan Ketahanan Nasional

NGAWI,mentaripagi.i-news.site – 16 Desember 2025, Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), berdialog langsung dengan para seniman dan pegiat budaya Kabupaten Ngawi dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang dirangkai dengan masa reses DPR RI, bertajuk “Ngawi Berkarya, Kuatkan Seni Budaya Nusantara.” Pertemuan yang berlangsung hangat dan penuh semangat tersebut menjadi ruang silaturahmi kebangsaan sekaligus wadah menyerap aspirasi komunitas seni sebagai bagian penting pembangunan karakter bangsa.

Seni Budaya sebagai Fondasi Karakter dan Identitas Bangsa
Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI itu menegaskan bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya bersumber dari kekayaan alam dan ekonomi, tetapi juga dari seni dan budaya yang hidup di tengah masyarakat. Menurutnya, mencintai budaya tidak cukup hanya dengan mewarisi, tetapi harus diwujudkan dengan mementaskan, mempromosikan, dan terus berinovasi agar seni mampu menyambung masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa.

“Budaya adalah jembatan peradaban. Kalau kita rawat, kita tampilkan, dan kita kembangkan dengan kreativitas, maka identitas bangsa akan tetap hidup dan relevan sepanjang zaman,” tutur Ibas.

Ia menambahkan, Indonesia patut bersyukur karena memiliki warisan budaya yang telah diakui dunia. Berbagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO seperti batik, gamelan, wayang kulit, kebaya, Reog Ponorogo, Tari Saman, pencak silat, angklung, dan ragam tradisi lainnya menjadi bukti bahwa seni budaya Nusantara memiliki nilai universal.

“Ini adalah modal besar bangsa. Tugas kita adalah menjaga, menghidupkan, dan mengembangkannya agar tidak berhenti sebagai arsip sejarah, tetapi terus tumbuh sebagai sumber inspirasi dan kesejahteraan,” ujar Anggota Dapil Jawa Timur VII tersebut.

Potensi Seniman Daerah dan Identitas Ngawi RAMAH
Dalam konteks Ngawi, Ibas menyampaikan optimisme bahwa daerah ini memiliki potensi besar untuk melahirkan seniman-seniman berprestasi. Ia menyebut sejumlah figur yang dapat menjadi inspirasi dan harapan keberhasilan bagi generasi muda Ngawi, seperti almarhum Didi Kempot, maestro campursari yang karyanya mendunia; almarhum Mamiek Prakoso, pelawak grup legendaris Srimulat; Denny Caknan, musisi muda yang berhasil mengangkat musik Jawa ke panggung nasional; serta Tedja Suminar, seniman teater dan sastra yang konsisten menghidupkan dunia seni pertunjukan.

“Mereka adalah bukti bahwa dengan ketekunan, karakter, dan keberanian berkreasi, seniman daerah bisa berdiri sejajar di level nasional bahkan internasional,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Ibas juga mengapresiasi dan menguatkan semangat jargon “Ngawi RAMAH” sebagai identitas dan arah pembangunan daerah. Menurutnya, nilai Rapi, Aman, Maju, Adil, dan Harmonis bukan sekadar slogan, melainkan cerminan karakter masyarakat Ngawi yang harus terus dirawat melalui perilaku, kebijakan, dan karya nyata.

Kolaborasi dan Ekosistem Seni Budaya Berkelanjutan
Edhie Baskoro menegaskan bahwa pelestarian seni budaya tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan ekosistem yang kuat dan kolaboratif. Selain sinergi antara pemerintah pusat, daerah, komunitas, dan generasi muda, ia menekankan peran penting kementerian sebagai penunjang utama, yakni Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Kementerian Koperasi dan UMKM, serta Kementerian Pariwisata.

“Kolaborasi inilah yang akan membuat seni budaya tidak hanya lestari, tetapi juga berdaya secara ekonomi,” jelasnya.

Lebih lanjut, Edhie Baskoro menyoroti pentingnya ruang berekspresi yang memadai bagi para seniman. Ia mendorong agar ke depan tersedia ruang seni yang representatif, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa, sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal.

“Idealnya setiap kabupaten punya ruang seni, setiap kecamatan dan desa memiliki tempat berekspresi. Di situlah kreativitas tumbuh dan peradaban dijaga agar tidak terputus,” tegasnya.

Adaptasi Digital dan Aspirasi Seniman Ngawi
Menyesuaikan dengan perkembangan zaman, lulusan S2 Nanyang Technological University tersebut juga mengajak seniman Ngawi untuk adaptif dan memanfaatkan teknologi digital. Menurutnya, platform digital dan media sosial dapat menjadi etalase global bagi karya-karya lokal.

“Lewat YouTube, Instagram, dan platform digital lainnya, seni Ngawi bisa ditonton dunia—dari Asia hingga Eropa. Ini cara yang murah, mudah, dan berdampak besar,” ujarnya.

Dalam sesi dialog, Ketua Taruna Budaya Ngawi, Wahyu Yoga Ari Respati, menyampaikan aspirasi para seniman tradisional yang masih kekurangan ruang berekspresi dan sarana pendukung, termasuk peralatan musik seperti gamelan. Menanggapi hal tersebut, Ibas menyatakan komitmen untuk memperjuangkan dukungan konkret.

“Jika memang dibutuhkan peralatan musik seperti gamelan, bisa kita dukung. Insya Allah kami bersama Partai Demokrat akan perjuangkan agar seni budaya Ngawi terus hidup dan berkembang,” ungkap Anggota Dewan Penasihat KADIN ini.

Menutup kegiatan, lulusan S3 IPB University ini memberikan pesan kepada para seniman dan generasi muda Ngawi untuk terus berkarya, belajar, dan berkontribusi bagi bangsa. Ia menegaskan bahwa seni budaya adalah fondasi karakter nasional yang harus berjalan seiring dengan pendidikan dan inovasi.

Kegiatan Sosialisasi Empat Pilar ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama serta komitmen para seniman untuk menjadi duta-duta Pancasila di lingkungannya masing-masing, menjaga kerukunan, dan terus berprestasi demi kemajuan Ngawi dan Indonesia.

Kegiatan ini dihadiri oleh Anggota DPRD Kabupaten Ngawi dari Partai Demokrat Haris Agus Susilo, Camat Ngawi Arin, Ketua Taruna Budaya Ngawi Wahyu Yoga Ari Respati, serta para seniman dan seniwati dari berbagai komunitas seni di Kabupaten Ngawi.

_res.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *