Jember,mentaripagi.i-news.site – Di balik kesuksesan penyanyi dangdut ternama Dewi Perssik, terdapat sosok keluarga yang turut memberi pengaruh besar, salah satunya adalah kakak kandungnya yang dikenal dengan panggilan Mas Bin. Figur ini dikenal sebagai pribadi yang disegani sekaligus berperan penting dalam memberikan dukungan moral dan nasihat kepada adik-adiknya.
Mas Bin bukan sekadar anggota keluarga, tetapi juga dikenal sebagai penceramah atau ahli tausiyah yang aktif menyampaikan dakwah Islam dalam kehidupan sehari-hari. Gaya penyampaiannya yang santai, ringan, namun penuh makna membuat pesan-pesan yang disampaikan mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Tausiyah yang dibawakan Mas Bin lebih bersifat fleksibel dibandingkan ceramah formal seperti khutbah atau tabligh. Ia kerap mengisi kajian di majelis taklim, lingkungan rumah, hingga perkantoran. Dalam setiap kesempatan, Mas Bin menekankan pentingnya penerapan nilai-nilai keislaman secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, dengan contoh konkret yang dekat dengan realitas masyarakat.
Pada Jumat (24/04/2026), saat ditemui awak media di kediamannya, Mas Bin mengungkapkan pandangannya terkait perjalanan karier Dewi Perssik. Ia menilai bahwa kunci utama dalam menjaga stabilitas kesuksesan adalah sikap rendah hati.
“Alhamdulillah, hingga saat ini semua distabilkan oleh Allah SWT. Saya hanya memberikan satu nasihat, yaitu tetap rendah hati. Itu saja yang harus dipraktikkan dalam kehidupan. Semakin seseorang rendah hati, maka Allah akan menstabilkan talenta yang dimilikinya,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan khusus kepada sang adik agar senantiasa bersyukur dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, rasa syukur akan membentuk sikap menerima dengan lapang, sehingga hidup dapat dijalani dengan perasaan yang lebih ringan, menyenangkan, dan penuh kebahagiaan.
Tak hanya itu, Mas Bin turut membagikan pesan moral sederhana namun sarat makna kepada insan media yang hadir. Ia mengingatkan prinsip “Batu Bara” atau “Barang Tuhan Bagi Rata”, yang mengandung filosofi tentang keadilan, keikhlasan, dan kesadaran bahwa segala sesuatu pada akhirnya adalah milik Tuhan dan akan kembali dibagi secara adil.
Dengan pendekatan dakwah yang humanis dan membumi, sosok Mas Bin menjadi contoh bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat disampaikan secara relevan dan menyentuh hati, tanpa kehilangan esensi utamanya.














